Perbudakan adalah sejarah gelap peradaban manusia. Apalah hak manusia satu untuk menguasai manusia lain tanpa timbal balik? Dahulu sebelum manusia mengenal peradaban, perbudakan adalah bentuk dominasi dasar atas suatu daerah yang telah terjajah. Sebuah paradoks yang hidup menjamur kala itu. Lahirlah aristrokasi kerajaan. Raja-raja kemudian seakan mendapatkan power to control.
Manusia kemudian mengenal agama langit, lewat nabi, rasul dan juru selamat mereka mengabarkan kesetaraan hak dimata Tuhan. Sebuah contradictio in terminis, disatu sisi menolak namun disisi lain memperbolehkan. Perbudakan kemudian dihapuskan atas nama hak asasi manusia dan etika moral. Namun kenyataanya tak lebih dari sebuah parodi. Karena sejak zaman kegelapan, renaissence, aufklarung, modern sampai postmodern. Perbudakan atas sang sudra (kaum proletar) belum pernah selesai, ia tidak akan pernah naik kasta tanpa restu. Sejarah Jagad pramudhita (dunia/peradaban) hanya mengenal para satria (kaum borjuis) dan brahmana (kaum intelektual). Selebihnya tidak.
Perbudakan diganti dengan perburuhan yang dilegalisasi melalui upah rendah. Dengan alasan rendahnya keterampilan dan kualitas kerja buruh diperas tenaga dan pikirannya. Konon, Manifesto Komunis Karl Marx dibuat setelah ia melihat seorang ibu yang bekerja di pelabuhan. Seorang ibu dengan menggendong anak dipunggung menarik tali kapal selama lebih dari seharian dan digaji tak lebih dari beberapa shiling. Menyedihkan, karena peradaban tetap mengenal perbudakan, dengan nama yang lebih indah. Kaum Buruh!
Buruh punya berbagai nama, seperti buruh tani, buruh pabrik, dan buruh migran. Menjadi buruh tidak pernah menjadi sebuah pilihan yang menggembirakan. Mungkin dari sekian banyak pilihan, buruh migran mungkin adalah sebuah pilihan yang menjanjikan. Bekerja diluar negeri dengan upah yang cukup membuat orgasme hidup tetap berlanjut. Upah tinggi kadang menggelapkan mata, rasionalitas tidak bekerja, insting jadi tumpul. Hanya nafsu yang bekerja. Maka tak heran jika banyak dari saudara sebangsa kita menjadi buruh migran dengan cita-cita merubah nasib.
Resiko menjadi pertimbangan nomor sekian. Yang penting keluar dari keterpurukan hidup. Tidak perduli resiko apapun yang menghadang, perjuangan untuk hidup makmur jalan terus. Kita sebagai (katanya) kaum intelektual hendaknya bergerak menyadarkan mereka tentang keselamatan. Jangan hanya mengandalkan pemerintah. Terbukti 14 kebijakan dan peraturan yang dibuat tak lebih hanya pajangan. Implementasinya tidak tersampaikan dengan baik. Mulai bernyanyi buruh migran mahasiswa rakyat miskin kota, Siap?










--
--
_________________________________
Do it for long enough and magical,
life-transforming things happen eventually
--
: : Bruno : :
Official Website
8 Reg'Art
--
~buah tangan dari seorang diktaktor cinta, yang menginterfensi hati, mempropaganda arti dari sebuah makna cinta!~
--
stay -SIC-
Happy Holidays!
--
Music Dedication | TWLOHA Dedication
alhamdulila dhan lo udd sembuh dari penyakit lo...(homo)
i so proud of you beib......[link]
Glad
--
i through a very haaaaaaaard time for sure
Previous Page12345...Next Page